INDONESIA SEMBUNYIKAN APA DI PAPUA BARAT?
Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman
Mengapa Papua Barat menjadi wilayah koloni Indonesia yang diisolasi?
Apa yang penguasa kolonial firaun modern Indonesia sembunyikan di Papua Barat?
Apa yang penguasa kolonial firaun modern Indonesia takutkan di Papua Barat?
Pertanyaan-pertanyaan ini dimunculkan karena ada beberapa fakta sebagai berikut:
1. Wartawan asing dilarang masuk di Papua Barat;
2. Wartawan nasional dilarang masuk di Papua Barat;
3. Diplomat asing dilarang masuk di Papua Barat;
4. Palang Merah Internasional dilarang masuk di Papua Barat?
5. Lembaga-lembaga kemanusiaan Internasional dilarang masuk di Papua Barat.
Sementara persoalan Papua Barat adalah sudah menjadi seperti duri dalam sepatu Indonesia atau seperti duri dalam tubuh bangsa Indonesia.
Semua masalah Papua seperti duri di dalam tubuh Indonesia ini sudah menjadi seperti luka membusuk dan dan bernanah di dalam tubuh bangsa Indonesia.
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno menggambarkan persoalan konflik Papua Barat sebagai berikut:
“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia. Kita teringat pembunuhan keji terhadap Theys Eluay dalam mobil yang ditawarkan kepadanya unuk pulang dari sebuah resepsi Kopassus.”
“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).
“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal.257). (Sumber: Franz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).
Sementara alm.Pastor Frans Lieshout, OFM sebagai Gembala dan Guru Bagi Papua mengungkapkan:
"..Orang tidak mau mendengar orang Papua, apa yang ada dihati mereka, aspirasi mereka. Aspirasi itu dipadamkan dengan senjata, kita harus mengutuk itu. Pendekatan Indonesia terhadap Papua harus kita kutuk. Orang Papua telah menjadi minoritas di negerinya sendiri. Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia." (Sumber bacaan: Pastor Frans Lieshout. Gembala Dan Guru Bagi Papua. hal.399, 601).
Sedangkan ibu Dr. Anti Soleman dalam saat peluncuran 5 buku Seri Sejarah Politik, HAM dan Demokrasi di West Papua karya Markus Haluk di Graha Oikoumene, Jakarta, Kamis (15/6/2023) menyatakan, “Buku ini (karya Haluk) cerita tentang luka. Luka tentang Papua itu tidak saja ada pada kami seperti usia saya yang sudah 71 tahun, tapi luka itu sudah ada dalam hidup anak dan cucu kita, umurnya 17 tahun”.
Pendeta Gomar Gultom, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada suatu diskusi tentang Papua pernah mengungkapkan:
"Persoalan Papua hari ini sudah seperti luka bernanah yang belum sembuh, belum kering nanahnya tapi muncul luka yang baru di atasnya" (Sumber: Pdt. Ronald Rischard Tapilatu: Membawa Keadilan dan Damai ke Tanah Papua: 2024, xvi).
Akar konflik Papua Barat yang sudah seperti duri dan luka membusuk ini sudah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah tertuang dalam buku Papua Road Map, yaitu 4 akar persoalan sebagai berikut:
(1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;
(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;
(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;
(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.
Penguasa Indonesia tidak bisa menghindar dari fakta-fakta ini. Pemerintah Indonesia juga tidak boleh bersembunyi dibalik "jargon" NKRI harga mati di Papua Barat.
Dunia semakin terbuka dan mengglobal dan tidak ada rahasia dan tidak ada tersembunyi. Media sosial telah menjadi alat interaksi sosial yang lebih cepat
Solusi akar konflik Papua Barat bukan membatasi wartawan dan diplomat asing.
Solusi akar konflik Papua Barat juga bukan Daerah Otonomi Baru Boneka Indonesia dan Otonomi Kasus Nomor 2 tahun 2021.
Solusi yang lebih bermartabat, adil dan mendamaikan ialah dialog atau perundingan damai seperti persoalan Aceh, GAM-RI di Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Terima kasih. Selamat membaca
Ita Wakhu Purom, 15 Juli 2024
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua
(WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).
__________
Kontak:
1. 08124888458
2. 081288887882








Tidak ada komentar:
Posting Komentar